RSS

Pengembangan APlikasi

18 May

Pengembangan Aplikasi

    Pengembangan aplikasi, atau bisa juga disebut sebagai pengembangan software atau desain software, kerap kali disalahartikan sebagai kegiatan dimana seorang programmer melakukan coding, sebuah proses penulisan kode
tetapi sebenarnya yang dimaksud dengan pengembangan aplikasi merupakan serangkaian proses yang dilakukan dari saat pembuatan konsep aplikasi hingga aplikasi tersebut selesai dan siap digunakan[11].

    Dalam proses pengembangan aplikasi terdapat berbagai proses yang perlu dilakukan sebagai syarat untuk membuat sebuah aplikasi yang telah terancang dengan baik, dan dikerjakan secara berstruktur. Proses pengembangan aplikasi berdasarkan terdiri dari 5 tahap utama, walaupun di dalam setiap tahap tersebut terdapat berbagai fase lainnya yang dapat dijalankan sesuai kebutuhan pengembangan. Tahap tersebut antara lain : pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan, penggunaan, dan perawatan[9]. Tahap-tahap tersebut perlu dilakukan, guna mendapatkan sebuah software yang layak guna dan bertahan lama. Dalam urutan pelaksanaannya, terdapat berbagai macam model yang biasa digunakan oleh para pengembang aplikasi, seperti waterfall, spiral, dan agile development.

 

Metode Pengembangan Waterfall

Metode pengembangan waterfall, adalah sebuah metode pengembangan aplikasi dimana fase-fase pengembangan sebuah aplikasi dilakukan secara berurutan. Dalam metode pengembangan waterfall, setiap fase harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum beranjak ke fase selanjutnya. Kelebihan dalam penggunaan metode waterfall ini adalah proses yang terstruktur, meminimalisasi kemungkanan adanya revisi, maupun perubahan pada project, sehingga memudahkan pekerjaan dari pengembang. Namum demikian hal tersebut juga menjadi kekurangan model ini, dikarenakan metode ini tidak se-fleksibel metode pengembangan lainnya.


Gambar 2.1 Metode pengembangan Waterfall.

 

Metode Pengembangan Spiral

    

    Metode pengembangan spiral, dikenalkan oleh Barry Boehm pada tahun 1986 melalui artikelnya “A Spiral Model of Software Development and Enhancement”. Pada metode spiral, pengembangan diawali dengan membuat sebuah system requirement yang sedetil mungkin, dengan berbagai metode pengumpulan data seperti : mewawancarai calon pemakai, mendata form yang ada, dan aspek lain dari sistem tersebut. Langkah selanjutnya adalah membuat desain awal dari sistem yang baru, dimana sebuah prototipe aplikasi akan dikembangkan dari desain tersebut.


Gambar 2.2 Metode pengembangan Spiral.

 

    Setiap lingkaran mewakili sebuah proses prototyping, yaitu membuat sebuah prototipe aplikasi yang dikembangkan. Prototipe tersebut kemudian akan dievaluasi kelebihan dan kekurangannya. Dari hasil evaluasi tersebut tim dapat menentukan seperti apa prototipe yang kedua. Begitu terus berulang hingga mendapatkan hasil yang diinginkan.

    Kelebihan dari model ini antara lain progress dari pengembangan software tersebut dapat dipantau dengan baik, baik oleh tim pengembang maupun pemesan aplikasi. Metode spiral sebenarnya merupakan metode waterfall, yang dimana dilakukan secara berulang-ulang, menghasilkan sebuah aplikasi dimana semua kekurangan dan masalah yang mungkin terjadi akan diantisipasi terlebih dahulu, dan penambahan fitur pada aplikasi menjadi mungkin.

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: